Rayuan Waktu
Bukankah lalu panah itu mengembang?
Lalu mengucurkan buaian hitam?
Apa kesadaranmu tetap kau hilangkan
Walau berbagai nestapa tetap menerjang
Kabarnya ia hilang
Ditelan waktu roda kehidupan
Menerkam, memakan, dan menerjang
Seluruh gerai nestapanya
Kini ia hanya tinggal nama
Nisannya selalu tertawa
Membawa rohnya pada nirwana
Hanya Tuhan yang tahu, ia tetap bahagia atau merana
Sapuan Lembayung
Hari itu tetap ku pegang tanganmu
membasuh berbagai luka pada langkah kakiku
dan merombak sayat pada nestapa
yang kian merusak titipan tubuh Illahi
Apa yang pantas untuk dibanggakan
Jika sang waktu tetap menghancur luka
Menebar benih kebencian
Agar manusia sadar pahitnya raga ini
Bukankah ia datang padamu jua
Mengabarkan sapuan lembayung
Yang berisikan duri terlindung
Untuk menghancurkan diam-diam
Waktu
Jam itu terus berdering
melontarkan suara pada telinga
Ia membisikkan suatu kata
Agar ingat usia di dunia
Ia terus membayangi manusia
Sebagai pengingat
Tapi kadang diabaikan
Ia diperhatikan hanya jika manusia butuh
Namun jika saatnya tiba
Manusia takkan berdaya
Waktu pun enggan menolong
Karna masanya telah habis
Kenangan
ingatku pada kisah lampau
yang mengunjungiku pada saat kusendiri
ia tersenyum manis bak bidadari
menyongsongkan senyuman bagaikan senja hidup
ia selalu disampingku
menolak berbagai macam manusia
untuk menyambutku
tapi juga melukaiku
kadang ia pergi saat aku gembira
ia menangis saat aku bahagai
tapi ada saatnya
kami bersama menagis terisak-isak
Buatan Itu
buatan itu indah
buatan itu mengagumkan
buatan itu menakjubkan
buatan itu luar biasa
buatan itu hebat
buatan itu kuat
buatan itu wow
buatan itu sangat
buatan itu lelah
buatan itu uasang
buatan itu rusak
buatan itu dibuang
Terima kasih 🙏
BIMBINGAN BELAJAR PRESTIGE COLLEGE (PC)
Jalan Cut Nyak Dien No. 234C (Depan TFC)
Rantauprapat
puisi
catatagiat
menulis puisi
membaca puisi
pengertian puisi
catatan
ciri puisi
ruang pengetahuan

